Body Image Distress, Masalah Kesehatan Mental yang Meningkat di 2026

Body Image Distress, Masalah Kesehatan Mental yang Meningkat di 2026

Body image distress adalah perasaan tidak nyaman, malu, atau stres terhadap penampilan tubuh sendiri. Terutama ketika realitas tubuh kamu tidak sesuai dengan standar ideal yang di tanamkan oleh masyarakat, teman, maupun media sosial. Ini bukan sekadar “ingin lebih bagus,” tetapi bisa berujung pada gangguan serius seperti kecemasan sosial, depresi, maupun gangguan makan. Penelitian menunjukkan bahwa persepsi negatif terhadap tubuh berkaitan erat dengan tekanan psikologis serta kualitas hidup yang menurun.

Dalam situasi normal, setiap orang bisa memiliki ketidakpuasan pada tubuhnya. Tetapi ketika hal ini berubah jadi distress yang berlebihan, itu sudah melibatkan kesehatan mental secara nyata — mengganggu rutinitas sehari-hari, hubungan sosial, hingga cara seseorang memandang dirinya sendiri.

Mengapa Masalah Ini Meningkat di 2026?

1. Studi Terbaru Menunjukkan Body Image Distress sebagai Isu Utama

Hasil studi menunjukkan bahwa masalah kesehatan ini sudah menjadi masalah besar di kalangan dewasa muda. Tidak hanya mereka yang kelebihan berat badan, tetapi juga mereka yang terlalu kurus mengalami kecemasan psikologis sedang sampai berat akibat cara mereka melihat tubuhnya sendiri.

Ini menunjukkan bahwa body image distress bukan sekadar “masalah cewek remaja,” tapi sudah menyebar ke kelompok lain — laki-laki dewasa muda pun tidak terlepas dari tekanan ini.

2. Peran Media Sosial yang Membesar

Platform seperti Instagram dan TikTok punya peran besar dalam memengaruhi cara orang memandang tubuh. Anak remaja yang sering merasa buruk tentang tubuhnya cenderung mendapatkan lebih banyak konten yang berhubungan dengan standar tubuh ekstrem atau konten yang memicu gangguan makan.

Di era algoritma ini, konten yang menampilkan bentuk tubuh “ideal” atau diet ekstrem bisa terus muncul di feed seseorang. Padahal sebenarnya hal itu bisa memperparah perasaan tidak aman dan ketidakpuasan tubuh pada pengguna yang sudah rentan.

Baca Juga:
Tanda Stres Kronis yang Sering Disalahartikan sebagai Kelelahan Biasa

Bagaimana Body Image Distress Mempengaruhi Kesehatan Mental?

1. Kaitan dengan Gangguan Emosional

Berbagai penelitian menunjukkan hubungan kuat antara body image yang buruk dengan kecemasan dan depresi. Ketika seseorang tidak puas dengan tubuhnya, perasaan itu sering berkembang menjadi stres psikologis yang mengganggu stabilitas mental seseorang.

Misalnya, studi menunjukkan bahwa ketidakpuasan berkaitan dengan gejala depresi serta peningkatan resiko pikiran atau perasaan yang sangat negatif terhadap diri sendiri, yang bisa menjadi faktor risiko gangguan mental lebih dalam.

2. Resiko Gangguan Makan dan Perilaku Tidak Sehat

Masalah kesehatan ini seringkali menjadi pintu menuju perilaku makan yang tidak sehat. Ketika seseorang berusaha memaksakan tubuhnya sesuai “idealisme” tanpa dukungan profesional, ini bisa berkembang jadi gangguan makan.

Selain itu, masalah kesehatan ini juga sering memengaruhi kebiasaan diet yang ekstrem atau pola olahraga yang tidak seimbang, keduanya berbahaya bila dilakukan tanpa kontrol yang tepat.

3. Dampak Sosial dan Interpersonal

Ketidakpuasan terhadap tubuh bukan hanya soal pikiran sendiri, tetapi juga cara seseorang bersosialisasi. Banyak orang yang merasa cemas atau tidak percaya diri untuk tampil di depan orang lain — dari ambil foto sampai hadir di acara sosial.

Ini bisa memengaruhi hubungan sosial, produktivitas di tempat kerja atau sekolah, dan bahkan kemampuan seseorang merasakan kedekatan dengan lingkungan sosialnya.

Faktor Utama yang Membentuk Body Image Distress

1. Tekanan Media dan Sosial

Budaya modern sering mendramatisasi bentuk tubuh tertentu sebagai “ideal,” padahal itu belum tentu sehat atau realistis. Eksposur terhadap standar ideal ini bahkan bisa di mulai sejak anak kecil usia 7 tahun, yang memengaruhi persepsi tubuh sejak dini.

Belum lagi zaman sekarang, algoritma media sosial sering memprioritaskan konten yang menekankan penampilan fisik. Itu bisa memperkuat gambaran salah tentang “tubuh sempurna.”

2. Faktor Gender dan Sosio-Budaya

Penelitian menunjukkan bahwa perempuan cenderung mengalami body image distress lebih tinggi daripada laki-laki, karena ekspektasi sosial terhadap bentuk tubuh perempuan sering jauh lebih menuntut. Faktor sosial, keluarga, dan budaya juga memainkan peran besar dalam bagaimana seseorang memandang dirinya sendiri.

Sementara itu, ekspektasi terhadap penampilan laki-laki juga berubah — misalnya menjadi lebih “berotot” — sehingga pria pun bisa mengalami masalah kesehatan ini jika standar tadi tidak terpenuhi.

3. Perubahan Tubuh Alami dan Tingkat Stress

Masa pubertas, perubahan fisik, atau perubahan gaya hidup bisa memicu hal ini. Perubahan di tubuh yang cepat selama remaja atau dewasa awal sering kali membuat seseorang merasa jauh dari “ideal” yang mereka lihat di luar sana.

Ditambah lagi, tekanan akademis, pekerjaan, dan masalah hidup lainnya bisa memperparah perasaan negatif tentang tubuh.

Masalah di Kalangan Remaja & Dewasa Muda

1. Remaja

Remaja merupakan salah satu kelompok yang paling rentan. Sebagian besar remaja memiliki rasa tidak puas terhadap tubuhnya dan merasa tekanan sosial sangat kuat. Mayoritas remaja menginginkan tubuh yang lebih kurus atau lebih berotot, serta sering menghindari aktivitas sosial karena rasa tidak percaya diri.

2. Dewasa Muda

Dewasa muda juga tidak kalah terdampak. Studi menunjukkan peningkatan masalah kesehatan ini sejak 2009 hingga 2015, khususnya di antara usia 16-25 tahun.

Bahkan di tempat kerja atau lingkungan sosial dewasa, rasa tidak percaya diri terhadap tubuh sering berkontribusi terhadap stres psikologis yang signifikan.

Tantangan di Era Digital 2026

1. Algoritma Media Sosial

Algoritma sering menampilkan konten yang terus memengaruhi persepsi tubuh dan standar kecantikan. Bukan hanya konten langsung tentang “body goals,” tetapi juga hal-hal yang lebih halus seperti filter foto, komentar, atau trend make-over yang menonjolkan penampilan tertentu.

2. Kurangnya Edukasi dan Dukungan

Masih banyak orang yang tidak tahu bagaimana membangun body image yang sehat. Tanpa pemahaman yang tepat tentang bagaimana media memengaruhi persepsi tubuh, banyak yang terjebak dalam siklus buruk yang terus mengulang.

3. Stigma terhadap Kesehatan Mental

Masih banyak yang enggan mencari bantuan profesional ketika mengalami masalah kesehatan ini. Anggapan bahwa “ini hanya soal penampilan” sering membuat orang menunda atau menghindari penanganan yang seharusnya.